Halmahera Tengah, 8 September 2026 — Nuansa persaudaraan lintas kabupaten mewarnai perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H melalui acara adat Fanten yang mempertemukan warga Desa Gemia, Maliforo, dan Wayobibil (Halmahera Tengah) dengan Desa Soagimalaha (Halmahera Timur). Kegiatan yang mengusung tema “Fagogoru dan Risalah Rasulullah SAW: Menjadi Kebaikan, Menjadi Kebiasaan” ini berlangsung di Desa Gemia dan Maliforo.
Acara Fanten turut dihadiri Bupati Halmahera Timur Ubaid Yakub beserta istri, jajaran OPD Halmahera Timur, pimpinan OPD Pemerintah Daerah Halmahera Tengah, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta warga dari kedua kabupaten.
Momen paling dinanti terjadi saat Bupati Halmahera Tengah Ikram Malan Sangadji dan Bupati Halmahera Timur Ubaid Yakub beserta rombongan diarak menggunakan tradisi adat setempat menuju lokasi acara, menghadirkan suasana meriah sekaligus sarat makna budaya.

Di hadapan masyarakat, Bupati Ikram Malan Sangadji menjelaskan makna nilai-nilai Fagogoru yang menurutnya harus diintroduksi dan diintegrasikan dalam tata kelola pemerintahan. Ia menekankan bahwa seorang pemimpin daerah wajib menjunjung nilai-nilai luhur tersebut tanpa memandang perbedaan, yakni saling menghargai, saling menyayangi, saling membantu, dan menghadirkan keadilan bagi sesama.
“Seorang pemimpin harus dapat memberikan satu kesatuan kepada masyarakat, arti terhadap keadilan dan menghargai satu sama lain. Alhamdulillah saya konsisten dengan nilai-nilai luhur Fagogoru untuk masyarakat yang saya cintai,” ujarnya.
Sebagai contoh konkret, Bupati Ikram menyinggung sikapnya pada proses Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) yang baru berlangsung. Ia menegaskan tidak ikut campur dalam proses pemilihan tersebut dan sepenuhnya menyerahkan keputusan kepada masyarakat untuk memilih pemimpin desa yang mereka kehendaki.

“Saya amanatkan saja kepada masyarakat untuk memilih pemimpin yang mereka inginkan untuk membangun desa. Alhamdulillah pelantikan Pilkades dilaksanakan di kecamatan dan semua warga dapat menyaksikan, inilah pemimpin desa kita ke depan,” tambahnya.
Ia turut menyampaikan ucapan selamat datang kepada saudara-saudara dari Halmahera Timur, menegaskan bahwa momentum Fanten ini menjadi bukti persaudaraan yang terbingkai dalam nilai-nilai Fagogoru, di mana warga dari kedua kabupaten dapat berkumpul dan bersama-sama melantunkan zikir dalam rangka peringatan Maulid Nabi.
Senada dengan itu, Bupati Halmahera Timur Ubaid Yakub menyampaikan bahwa perayaan Fanten menjadi pengingat akan eratnya tali silaturahmi antara masyarakat Halmahera Timur dan Halmahera Tengah dua daerah yang meski terpisah secara administratif, tetap merupakan satu kesatuan yang lahir dari nilai leluhur bersama yang terangkum dalam makna Fagogoru.
Ubaid turut mengapresiasi panitia atas pemilihan tema “Fagogoru dan Risalah Rasulullah SAW: Menjadi Kebaikan, Menjadi Kebiasaan”, yang menurutnya menyentuh hati dan mendorongnya untuk menyampaikan beberapa patah kata.

“Rasulullah dilahirkan untuk menebar kebaikan, bukan menebar kebencian itulah Fagogoru. Nagaku rasai, bukan sekadar pengakuan bahwa ‘saya bersaudara, saya berkeluarga’, bukan sekadar itu, tetapi rasa yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa nilai sopan santun, budi re bahasa, dan akhlak yang diajarkan Rasulullah SAW sejalan dengan semangat Fagogoru. Menurutnya, Fagogoru dan Islam adalah dua hal yang tak terpisahkan, ibarat satu mata uang dengan dua sisi.
Dalam momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW melalui perayaan Fanten ini, kedua bupati mengajak seluruh masyarakat untuk terus mempertahankan dan melanjutkan adat serta budaya ini, sebagai warisan leluhur yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.
